Postingan

Alay Adalah Fase, Bukan Zaman

Gambar
Hiyaaaaat… Dari sekian banyak draft yang sudah dibuat, nampaknya tulisan ini yang akan terlebih dahulu ditampilkan, meskipun dibuat paling terakhir. Hal ini disebabkan karena mengamati status fesbuk sendiri dari tahun ke tahun berkat bantuan pemberitahuan fesbuk. Karena saat ini saya tdak berada di kehidupan bermasyarakat, lah. Iya, maksudnya saya hidup di ruang yang terbatas, terbatas ukurannya, eh. Maksudnya saya hidup kost yang nomaden selama kurang lebih delapan tahun terakhir, jadi saya hanya berinteraksi dengan teman sebaya, atau paling mentok dengan pemilik kost. Sangat jarang punya interaksi dengan para remaja kalangan SMP hingga awal SMA. Ada sih interaksi, paling setengah tahun sekali dengan sepupu, tapi Cuma berapa hari saja dan nggak intense. Hingga akhir tahun kemarin saya kembali merasakan berinteraksi dan punya cara dengan remaja (SMP), setelah sekian lama meninggalkan aktivitas itu. Rasanya bahagia punya “kanvas” yang siap menerima energi positif saya pad...

Bolehkah kita bertemu lagi?

Bagaimana rasanya bermimpi bertemu seseorang yang telah meninggalkan dunia ini, padahal saat hidup pun aku tak pernah menemuinya, bahkan mengenalnya pun tidak. Rasanya malam ini menjadi mimpi terpanjang dengan kalimat terpanjang dan juga pelajaran hidup yang membuat sabarku akan lebih luas. Awalnya aku sungguh hanya melihatnya sebagai seorang lelaki berusia sekitar 60 tahun dengan gurat muka yang nampak jelas, namun aku melihat satu hal di ujung matanya, ya keteduhan. Dari mata itu pula yang meyakinkanku bahwa sebenarnya aku pernah menemui keteduhan mata yang sama. Bukan dari ayahku ataupun dari kakakku, teduhnya sama sekali seperti sesorang yang sama akhir-akhir ini. Hingga akhirnya aku menurunkan mataku untuk melihat dirinya seutuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sang Bapak hanya tersenyum dan berjalan pelan menuju arahku. Semakin berjalan, semakin aku yakin bahwa aku mengetahui siapa Bapak ini. Ia semakin dekat dan senyumnya semakin lebar. Aku hanya terpaku dala...

Darimanakah kekecewaan datang?

Jika beberapa orang berkata bahwa orang yang sedang jatuh cinta adalah pujangga terbaik, bagaimana dengan orang patah hati? Kamu tahu justru dalam patah hati itu kamu akan menemukan kejujuran seseorang dalam menulis. Jika kamu pernah menjadikanku sebaga inspirasimu dalam menulis, mungkin hari ini dunia telah berputar satu kali hingga aku sangat mencintai untuk menulis segala hal tentang kamu. Jadi dari mana asal mula dari patah hati? Ya, patah hati adalah sebuah muara dari semua kekecewaan Apakah kamu tahu darimana kekecewaan itu muncul? Kamu mungkin perlu mengkaji lebih dalam jika yang membuatmu kecewa adalah dia yang kamu cintai. Kamu bilang kamu kecewa karena dia lebih mencintai orang lain dari kamu? Karena dia mengingkari janji untuk terus bersamamu? Karena dia berbohong mengenai apa yang sedang terjadi dalam perasaannya? Karena dia mengkhianati ikatan yang telah kalian buat? Atau sekadar kecewa karena dia berubah? Benarkah? Kamu sepatutnya tahu bahwa...